• header
  • header

Selamat Datang di Website Resmi SMA Negeri 2 Merauke | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA Negeri 2 Merauke

NPSN : 11111111

Jl. Nowari No. 97 Kelurahan Karang Indah Merauke


info@smandamerauke.sch.id

TLP : 656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagi Siswa SMANDA Merauke, guru siapa yang anda senangi?
Djils Asrico Sahede
Drs. Syafii
Dra Sri Suhartini Soleman
Nurindah Lestari
Sukirno, S.Pd.Kim
Dra Yunita
Umi Rosidah
Dra Abiah
Mujianto
Eko Ari Prabowo
  Lihat
Bagi Siswa SMANDA Merauke, pelajaran apa yang anda senangi?
Matematika
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Fisika/Ekonomi/Bahasa Jerman
Biologi/Sosiologi/ Sastra
Kimia/Geografi/Antropologi
  Lihat

Statistik


Total Hits : 42060
Pengunjung : 13215
Hari ini : 4
Hits hari ini : 22
Member Online : 0
IP : 54.221.136.62
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

MAKNA PENDIDIKAN




MENGEMBALIKAN MAKNA PENDIDIKAN YANG SESUNGGUHNYA

Oleh : Eko Ari Prabowo, S.S.

(Guru SMA Negeri 2 Merauke dan Ketua Umum Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia

Wilayah Papua)

 

            Disadari sepenuhnya bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting, bila bukan yang terpenting, bagi perkembangan setiap bangsa. Hanya dengan melalui pendidikan suatu bangsa dapat menjadikan rakyatnya sebagai sumber daya pembangunan yang tangguh dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, serta kemampuan untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut dengan mengikuti perkembangan sains dan teknologi serta perubahan nilai-nilai global yang cepat.

Selama hampir 66 tahun Indonesia merdeka, pendidikan mengalami proses politisasi dan komersialisasi yang menyedihkan. Politisasi dilakukan oleh negara, dengan cara melaksanakan berbagai kebijakan yang berubah-ubah yang salah satu tujuannya adalah mengumpulkan daya kritis dan militansi hidup peserta didik. Lewat politisasi pendidikan ini negara yang diperintah Rezim Orde Lama dan Orde Baru misalnya, seperti bermaksud untuk menjinakkan bangsanya sendiri, sehingga mudah dimobilisasi, untuk maksud-maksud politik (partai) atau maksud-maksud ekonomi (industri).

            Membicarakan sistem pendidikan di Indonesia, agaknya tidak akan pernah selesai. Karena sistem pendidikan di Indonesia tidak jelas arahnya mau ke mana. Berbagai seminar, lokakarya dan sebagainya, sudah sering dilakukan. Tapi hasilnya justru kadang-kadang membuat sistem pendidikan kita semakin tidak terarah. Apalagi pomeo : ganti menteri ganti kurikulum, sampai saat ini sepertinya masih terjadi. Dan tidak salah. Lalu mau ke mana sebenarnya sistem pendidikan kita.

            Menurut Prof. Djohar, mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, orientasi pendidikan kta selama ini diarahkan kepada tujuan, namun demikian evaluasi hasilnya tidak mengukur keberhasilan tujuan itu, sehingga peserta didik kita tidak memperoleh apa-apa dari pendidikan itu. Tujuan pendidikan sering dinyatakan sebagai simbol-simbol verbal yang tidak realistik dan tidak memiliki ukuran untuk pencapaiannya.

            Dari kondisi pendidikan yang menggunakan kurikulum, justru peserta didik tidak pernah memperoleh layanan yang diharapkan kurikulum, yakni sebagai manusia ia tidak pernah mendapat perhatian atas kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, sebagai individu manusia ia tidak pernah memperoleh bimbingan untuk memecahkan masalah dirinya, sebagai manusia ia tidak pernah memperoleh bimbingan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam hidupnya, sebagai manusia ia tidak pernah memperoleh penghargaan atau pujian atas keberhasilannya, dan sebagai manusia ia tidak pernah memperoleh pengakuan atas kelemahan dan unggulan kemampuan apabila dibandingkan dengan orang lain, dan sebagai insan yang hidup bersama ia tidak pernah merasakan hidup demokratis, sehingga demokrasi hanya dirasakan sebagai pernyataan verbal, bisa diucapkan akan tetapi tidak mampu dilaksanakan dalam kehidupan nyata.

            Selama ini justru kurikulum difungsikan sebagai penjerat atau pembelenggu pendidikan. Anak dikorbankan demi kurikulum, padahal seharusnya kurikulum untuk kepentingan anak. Pendidikan pada hakikatnya tidak sekadar diarahkan untuk membangun kognitif, akan tetapi perlu digesert ke arah pendidikan untuk berbagai macam pertumbuhan kemampuan manusia meliputi intelektual, fisik, emosional, sosial dan moral.

            Akibat konsep pendidikan yang berorientasi pada kurikulum yang tidak tepat sasaran tersebut muncul berbagai fenomena-fenomen menyedihkan dalam dunia pendidikan. Semakin banyak kaum yang dianggap terpelajar dan berpendidikan telah bercitra seperti orang yang tidak mengenal pendidikan. Semakin maraknya perkelahian pelajar, tindakan kriminal yang dilakukan pelajar, serta tindakan-tindakan asusila lainnya, mencerminkan gagalnya dunia pendidikan dalam mencetak generasi yang beradab. Sekolah dan lembaga pendidikan tidak berhasil melaksanakan konsep mendidiknya.

            Salah satu faktor merebaknya tindak amoral dan asosial seperti disinggung di atas, karena dalam pendidikan kita faktor agama hanya dijadikan sebagai penguat kurikulum. Bukan sebagai penguat landasan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi wajar jika muncul kesan, pendidikan di Indonesia cenderung ke arah pendidikan sekuler. Sistem pendidikan di Indonesia tidak jelas, tidak memiliki pondasi Iman yang kuat, termasuk pada bidang pendidikan kita, yang sekian lama ini kondisinya memang sudah sekuler dalam penerapan ilmu pengetahuan umum di bangku sekolah termasuk di perguruan tinggi.

            Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul di bidang pendidikan saat ini, pemerintah mencanangkan konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendidikan di Indonesia diharapkan mempunyai karakter tersendiri, khas Indonesia yang penuh susila, beradab, sopan, dan menjunjung nilai-nilai kearifan lokal. Pendidikan  budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan ang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.

            Dengan pendidikan budaya dan karakter bangsa, peserta didik diharapkan akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya. Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

            Selain itu, dalam konsep ini pendidikan dianggap sebagai proses enkulturasi, berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karaker baru bangsa.

            Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

            Sebenarnya, konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa yang menjadi program andalan pemerintah kita dalam dunia pendidian, sudah pernah dijalankan oleh tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Ketika Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922, konsep mendidik yang merupakan cikal bakal pendidikan di Indonesia telah ditanamkan kepada para siswanya. Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik kita, supaya mereka kelak menjadi manusia yang berpribadi, yang beradab, dan susila. Selain itu, menurut bapak pendidikan nasional ini juga mengajarkan bahwa adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat batinnya manusia, sedang kesusilaan atau kehalusan itu menunjukkan sifat hidup lahirnya manusia yang serba halus dan indah.

            Konsep pendidikan yang begitu sarat makna tersebut, menjadi pegangan awal tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan di awal-awal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara mengalami degradasi. Konsep tersebut hanya tinggal konsep yang manis diucapkan. Konsep yang sering menjadi penghias sambutan-sambutan pada peringatan hari pendidikan nasional setiap tahun.

            Jadi, untuk membenahi dunia pendidikan, pemerintah tidak perlu meniru apa yang dilakukan oleh dunia pendidikan di dunia barat (Eropa atau Amerika). Kita perlu kembali pada nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh tokoh-tokoh pahlawan bangsa yang bergerak dalam dunia pendidikan. Tidak usah kita saling menyalahkan terhadap fenomena dunia pendidikan yang semakin memprihatinkan. Ada baiknya kita intropeksi diri, sudah sejauh mana kontibusi kita untuk memajukan dunia pendidikan. Kita berharap pemerintah serius untuk kembali menerapkan konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dalam mendidika para siswanya. Pemerintah tidak perlu mengejar kemampuan intelektual sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. Pemerintah jangan menjadikan nilai ujian akhir sebagai barometer keberhasilan pendidikan di suatu daerah. Bangunlah kompetensi kepribadian peserta didik menjadi generasi yang betul-betul Indonesia yang mengerti adat kesopanan bangsanya.

           




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas